Jumat, 14 Agustus 2015

Alur Recruitment untuk Industri Tekstil


Pada umumnya perekrutan atau alur karyawan baru dari mulai mendaftar sampai dengan menjadi pegawai tetap adalah sebagai berikut :

1. Melamar pekerjaan, proses ini bisa lewat email, langsung di kirim via pos, datang ke pameran bursa kerja (job fair), atau bisa juga menitip pada kenalan yang bekerja di tempat kita akan melamar tersebut. Proses ini biasanya hanya menyerahkan CV, surat lamaran, foto copy ijazah, foto copy KTP, pas foto dan lain-lain yang sekiranya dibutuhkan.


2. Psikotes, waktu yang dibutuhkan dari melamar sampai dipanggil untuk psikotes biasanya 1 minggu sampai 1 bulan atau bahkan lebih disesuaikan dengan kebijakan perusahaan masing-masing. Kalau tidak dipanggil terus berarti anda kurang beruntung, alias tidak lolos ketahap ini. Pelaksanaan psikoter biasanya berlangsung sekitar 10 menit sampai 5 jam, tergantung versi mana psikotes yang digunakan. Psikotes yang lama adalah psikotes IST yakni bisa sampai 5 jam.


3. Wawancara kerja, proses ini untuk beberapa perusahaan ada yang di barengkan dengan proses psikotes dan ada juga yang terpisah waktunya. Untuk wawancara yang terpisah waktunya biasaya memerlukan 1 minggu sampai 1 bulan rentang waktu antara psikotes dengan wawancara. Sama halnya dengan psikotes pada saat wawancara juga ketika tidak ada panggilan maka pelamar di anggap kurang beruntung atau tidak lolos. hhe.
Wawancara kerja biasanya ada beberapa tahap yaitu wawancaran dengan pihak HRD, pihak Manajemen, dan User. Pada pelaksanaannya wawancara juga disesuaikan dengan kebijakan masing-masing perusahaan.


4. Tes Kesehatan, untuk perusahan kecil biasanya tes ini tidak pernah dihiraukan atau jarang dilaksanakan. Namun untuk perusahaan-perusahaan besar tes ini sering di terapkan. Pada tes ini yang di tes adalah kesehatan fisik seperti mata, tulang, gigi, dan lain-lain yang diperlukan untuk menunjang produktifitas kerja.


5. Training, jika semua tes sudah dinyatakan lolos dan pelamar dinyatakan diterima kerja maka selanjutnya adalah mengikuti masa training. Masa training biasanya memiliki rentang waktu dari 1 bulan sampai 2 tahun, penggunaan training yang lama diperuntukan untuk karyawan yang masih muda atau fresh graduate. Pada masa training ini karyawan akan di kontrak untuk mengikuti training dengan waktu yang di tentukan, jika karyawan tersebut tidak mengikuti training secara penuh atau keluar kerja sebelum habis kontak training maka karyawan akan dikenakan sanksi atau penalty.


5. Kontrak Kerja, setelah beres training karyawan akan mendapatkan kontrak kerja untuk waktu tertentu. Biasanya kontrak tersebut berkisar selama 6 bulan sampai 2 tahun. Jika kinerjanya bagus maka karyawan tersebut bisa naik ke tahapan selanjutnya sebagai pegawai tetap.


6. Pegawai tetap, karyawan dengan status pegawai kontrak harus optimal atau minimal tidak melakukan kesalahan kerja selama masa kontrak supaya bisa naik menjadi pegawai tetap. Biasanya jika pegawai kontrak yang dirasa kurang berkontribusi atau pekerjaannya kurang baik maka orang tersebut kontraknya tidak di perpanjang lagi atau tidak dinaikan menjadi pegawai tetap.


Sekian ulasan mengenai alur penerimaan karyawan baru pada industri tekstil, Semua ulasan yang di uraikan berbeda-beda untuk setiap perusahaannya, bisa jadi tidak sesuai dengan yang saya tuliskan, Namun uraian di atas tersebut di tulis berdasarkan pengalaman saya sendiri dan itu real sesuai dengan yang saya alami dan saya ketahui. Semoga bisa membantu khususnya bagi teman-teman yang fresh graduate atau yang belum pernah bekerja. 

Rabu, 12 Agustus 2015

Jenis Jenis Mesin Rajut


Adapun jenis mesin rajut di bagi sebagai berikut

Berdasarkan arah deretan jeratannya, mesin rajut bisa dikelompokkan menjadi :
- mesin rajut pakan


- mesin rajut lusi



Berdasarkan posisi jarum-jarumnya, mesin rajut pakan terbagi menjadi :
- mesin rajut datar


- mesin rajut bundar



Berdasarkan jenis anyaman yang dihasilkan, mesin rajut lusi terbagi menjadi :
- mesin rajut lusi raschel
- mesin rajut lusi tricot
- mesin rajut lusi milanese

Proses Pembuatan Kain Rajut

Merajut kain rajut pakan :



Di bawah ini merupakan contoh jeratan dari kain rajut pakan :


  (
a) kain rajut kanan  (b) KAIN RAJUT KIRI

MERAJUT KAIN RAJUT LUSI :





JENIS-JENIS JARUM RAJUT

Adaup jenis-jenis jarum rajut yang di pakai adalah sebagai berikut :




(a) jarum janggut (spring beard needle)

(b)
jarum lidah (latch needle)

(c)
jarum  gabungan

Dasar Perajutan

Pada pembuatan kain dengan cara merajut benang, anyaman terbentuk tidak berupa silangan benang yang saling tegak lurus, tetapi berupa jeratan-jeratan (loop) yang saling berhubungan.


Anyaman bisa berasal dari benang yang jeratannya berderet ke arah lebar kain (kain rajut pakan) atau benang yang jeratannya berderet ke arah memanjang kain (kain rajut lusi) atau kombinasi dari keduanya.



Untuk membentuk jeratan-jeratan digunakan jarum (needle) khusus, yakni

- jarum janggut (spring beard needle)
- jarum lidah (latch needle) 
- jarum lainnya


Selain jarum, untuk membuat beberapa jenis kain rajut tertentu, dibutuhkan pula mekanisme dan alat lainnya.  


Senin, 10 Agustus 2015

Dasar Ilmu dalam Pertenunan


Proses menenun atau membuat tenunan yang biasa disebut sebagai  pertenunan  adalah proses membentuk suatu anyaman dari dua macam benang . Anyaman terbentuk dengan menyilangkan benang-benang dengan posisi saling tegak lurus.


Benang-benang yang searah dengan panjang kain disebut sebagai benang lusi (atau benang lungsi, lungsin), sedangkan benang yang melintang ke arah lebar kain disebut sebagai benang pakan.



Agar bisa berfungsi dengan baik selama proses pertenunan, masing-masing benang harus mengalami proses pengerjaan awal terlebih dahulu, yakni persiapan pertenunan.  Untuk pertenunan dengan mesin-mesin tenun konvensional, benang pakan mengalami proses pengelosan atau penggulungan pada palet (spindel). Benang lusi mengalami proses penghanian (warping), penganjian, dan pencucukan. Kemudian kedua macam benang tersebut dipasang di mesin tenun kemudian siap untuk dikerjakan.







Proses Pencelupan

Proses pencelupan dalam kenyataannya merupakan reaksi kimia yang rumit, yang terjadi antara zat warna yang terdispersi dan zat warna yang terendam dalam larutan celup.

   1. Tahap  pelarutan atau pendispersian zat warna (dissolving and dispersion of the dye)
 Pada tahap pertama ini, zat warna, dalam bentuk padat,  dilarutkan  menjadi bentuk molekuler atau dalam bentuk micel (agregat molekul dengan kelarutan yang baik), atau dalam bentuk powder (mikrokristal molekul zat warna yang larut kurang baik).


   2. Tahap adsorpsion
Selama tahap kedua ini, oleh pengaruh afinitas zat warna-serat, zat warna diadsorp pada permukaan serat membentuk ikatan kimia.  
Daya serap, suhu, (kadang-kadang pH dan atau zat pembantu) mempengaruhi interaksi termodinamis.


   3. Tahap diffusion
Selama tahap ketiga ini, zat warna yang diserap dalam bentuk molekuler oleh permukaan serat, dengan memutus dan memulihkan ikatan beberapa kali  zat warna cenderung menyusup masuk ke serat melalui daerah amorf untuk menyebar secara merata dan mantap


Tahap difussion pada proses pencelupan ini sangat penting karena ini mempengaruhi waktu bagi penetrasi yang baik, tahan luntur yang optimum, dan mutu yang baik.
faktor yang mempengaruhi adalah :
-           kristalinitas serat : zat warna masuk ke serat melalui daerah amorf. oleh karena itu, semakin tinggi kristalinitas semakin rendah kecepatan difusi.
-           ukuran molekul zat warna : semakin besar  molekul zat warna semakin sulit difusi melalui  daerah  amorf.
-           ikatan zat warna-serat : semakin kuat ikatan semakin sulit difusi
-           suhu pencelupan : suhu memfasilitasi pemecahan ikatan zat warna serat dan membebaskan ikatan intramolekuler sehingga mempercepat difusi.

   4. Tahap migrasi (migration)
Pada tahap 4  ini, tahap 2 dan tahap 3 dibalik.  Zat warna harus menyebar ke arah lapisan-lapisan luar serat, kemudian kembali ke larutan dan bermigrasi dalam daerah serat di mana  ada konsentrasi rendah zat warna. Jadi, memantapkan konsistensi warna.

Afinitas yang rendah, kristalinitas yang buruk, ukuran molekul yang kecil dari zat warna akan menguntungkan dalam tahap ini, meski berpengaruh buruk terhadap dyeing solidity dan liqour exhaustion. Di sisi lain, konsentrasi tinggi elektrolit akan memfasilitasi agregasi bahan anion zat warna dalam inti serat di mana zat warna lebih terkonsentrasi dan memperbaiki pengeluaran dan mengurangi fenomena migrasi.


Migrasi dipermudah oleh waktu rendam pada suhu tinggi yang akan mengarah pada biaya lebih tinggi. pengendalian yang baik pada tahap adsorpsi dan difusi, dengan dispersi yang halus dari zat warna pada setiap saat proses pencelupan, bisa membuat tahap migrasi menjadi berlebihan, dengan konsekuensi biaya efisiensi dan mutu yang lebih tinggi.